Menteri Nusron di Haul Sesepuh Pondok Buntet: Ulama Hidup untuk Umat

Tangkapan layar pidato Menteri Nusron Wahid di Haul Sesepuh Pondok Buntet

“Syarat nomor 2 adalah yakhshā Allāha. Orang alim banyak tapi tidak yakhshā Allāha, tidak takut sama Allah,” ucap Menteri Nusron Wahid.

CIREBON — Suasana khidmat menyelimuti kompleks Makbaroh Gajah Ngambung, saat ribuan santri dan alumni Pondok Buntet Pesantren menghadiri acara Ziarah & Tahlil Akbar Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren pada hari Sabtu, 2 Agustus 2025. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid hadir dan menyampaikan pidato tentang makna keulamaan dalam perspektif Al-Qur’an dan kehidupan pesantren.

Dalam pidatonya, Nusron Wahid mengurai secara mendalam tiga istilah penting dalam Al-Qur’an terkait keilmuan dan ulama, yakni ulama, rabbaniyyun, dan ahludz dzikr. Ia menegaskan bahwa menjadi ulama bukan hanya soal pintar dalam agama, tapi juga soal integritas dan pengabdian kepada umat.

“Orang disebut ulama, syarat pertama harus alim. Harus pintar banget. Karena ulama adalah jamaknya dari kata alimun. Tapi alim saja tidak cukup di dalam Al-Qur’an disebut ulama. Harus masuk syarat yang nomor 2. Syarat nomor 2 adalah yakhshā Allāha. Orang alim banyak tapi tidak yakhshā Allāha, tidak takut sama Allah,” terangnya.

Tak hanya menyoroti aspek intelektualitas dan ketakwaan, Menteri Nusron juga menekankan pentingnya dedikasi sosial seorang ulama. Ia mencontohkan para sesepuh Pesantren Buntet yang menggunakan hidupnya untuk umat, bukan untuk kepentingan pribadi.

“Hidupnya selalu digunakan untuk memikirkan orang lain. Hidupnya selalu dicurahkan untuk memperhatikan umat. Hidupnya selalu digunakan untuk kepentingan masyarakat. Hidupnya selalu digunakan untuk kepentingan negara,” papar Menteri Nusron.

Ia juga menyampaikan bahwa ulama sejati tidak mengharapkan pengaruh kekuasaan, melainkan lebih memilih mengajar, menulis kitab, dan membimbing umat dengan laku hidup penuh zikir.

“Mereka tidak lagi memikirkan menjadi tim sukses kalau ada pilkada. Tapi ini sudah Rokbaniyut, yang dia pikirkan hanya bagaimana mengajar. Malam habis maghrib mengajar, habis Isya’ mengajar, habis subuh mengajar, kemudian habis sholat dhuha mengajar, habis Ashar mengajar lagi,” papar Menteri Nusron diikuti anggukan para santri.

Sebagai penutup, ia berdoa agar seluruh dzurriyyah para sesepuh dan seluruh santri bisa melanjutkan perjuangan dengan menjadi bagian dari golongan rabbaniyyun dan ahludz dzikr, yakni mereka yang hidupnya semata-mata untuk Allah dan umat.

Acara haul ini tidak hanya menjadi momentum spiritual dan kultural bagi warga Buntet, tetapi juga menjadi ruang penguatan nilai-nilai keulamaan yang relevan di tengah tantangan zaman. (Ed/EL)

Video pidato Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dalam acara Ziarah & Tahlil Akbar Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren dapat dilihat di sini.