Rawa Jadi Sawah: Tekad Prabowo Menghidupi Bangsa dari Lahan Telantar

Presiden Prabowo mencoba drone di lahan rawa

Presiden meyakini bahwa Indonesia bisa lepas dari ketergantungan impor pangan jika mampu memaksimalkan kekayaan lahannya.

JAKARTA – Di tengah hamparan rawa yang dulu dianggap lahan telantar dan hanya dihuni oleh ilalang dan reptil air, kini terbentang jalan-jalan traktor, kanal irigasi, dan petak-petak tanah yang mulai menghijau. Inilah Banyuasin, lokasi yang sedang disulap menjadi pusat ketahanan pangan nasional oleh pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

“Kata orang sini, dulu rawa ini tempat buaya. Tapi sekarang, kita bangun 105.000 hektare sawah dengan teknologi paling modern di dunia,” ucap Prabowo dengan nada bangga saat meninjau langsung lokasi program Gerakan Indonesia Menanam (GERINA), April lalu.

Ini menjadi simbol transformasi cara pandang negara terhadap potensi lahan non-konvensional. Lahan yang dulu dianggap tidak menghasilkan sehingga menjelma jadi lahan telantar. Presiden meyakini bahwa perubahan cara pandang mampu membawa Indonesia lepas dari ketergantungan impor pangan. Kuncinya adalah mampu memaksimalkan kekayaan lahannya.

“Rawa kita ubah menjadi sawah-sawah. Tanah-tanah tandus akan dibuat tanah-tanah yang subur,” tambahnya, dalam wawancara eksklusif yang dikutip MetroTV, Mei 2025.

Dari Tanah Telantar ke Lumbung Pangan Baru

Lahan rawa selama ini dipandang sebelah mata, sering jadi lahan telantar karena sulit diakses, bergambut, dan sering terendam banjir. Tapi kini, dengan teknologi pompanisasi, rekayasa saluran, dan pemilihan varietas padi yang adaptif, lahan tersebut menjelma jadi ladang harapan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa dari total target pemerintah, saat ini sudah 350 ribu hektare lahan rawa yang berhasil dioptimalkan.

“Kalau sebelumnya hanya bisa tanam satu kali, sekarang bisa dua bahkan tiga kali setahun,” ujar Amran, usai bertemu Presiden di Istana, November 2024.

Lebih dari Sekadar Swasembada

Langkah ini bukan hanya demi menambah angka panen. Di balik upaya menggarap rawa yang dulunya kerap dianggap lahan telantar, tersimpan ambisi yang lebih besar: kedaulatan pangan. Dalam banyak kesempatan, Prabowo menyebut bahwa Indonesia tak boleh lagi menjadi pasar pangan impor, terutama beras, yang kerap memicu inflasi dan gejolak sosial.

Pemerintah juga menekankan perlunya konversi mindset, bukan hanya konversi lahan. Petani dibekali pelatihan, akses pupuk ditingkatkan, dan sistem distribusi sedang dibenahi agar hasil panen bisa masuk pasar dengan harga wajar.

“Sumsel ini contoh baik. Produksi berasnya naik 25 persen. Kita mau jadikan model nasional,” kata Prabowo.

Jalan Masih Panjang

Meski optimisme mengemuka, jalan menuju kedaulatan pangan masih penuh tantangan. Infrastruktur belum merata, kualitas SDM pertanian belum seragam, dan ketergantungan pada alat berat serta subsidi masih tinggi. Namun, langkah sudah dimulai.

Dan di tengah rawa yang dulu senyap, di tengah lahan yang dulu dianggap tak menjanjikan, kini terdengar suara mesin bajak, cangkul, dan harapan yang tumbuh seiring pucuk-pucuk padi. (Ed/RSK)