Menteri Nusron Jabarkan 3 Pilar Kepemimpinan Islami di Hari Santri Nasional 2025

Menteri Nusron Wahid jabarkan 3 pilar kepemimpinan dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, yaitu ilmal ulama, hikmat al-hukama, dan wasiyasatal muluk. Menurutnya, pilar ini harus didasari fondasi akhlakul karimah atau sifat baik, dan pengetahuan agama yang mumpuni.

Bekasi – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, menghadiri upacara Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025, di Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur’an wal Hadits, Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat, pada Rabu (22/10/2025). Sebagai pembina dan pemberi amanat, Menteri Nusron jabarkan tiga pilar kepemimpinan menurut pandangan tokoh muslim Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, yaitu ilmal ulama, hikmat al-hukama, dan wasiyasatal muluk. Tiga pilar ini diharapkan menjadi arah bagi para santri untuk mempersiapkan diri sebagai ulama, teknokrat, dan negarawan.

“Prasyarat mutlak untuk memimpin manusia itu harus ada tiga pilar. Pilar yang pertama adalah ilmal ulama. Jadi para santri harus mempersiapkan dirinya menjadi kader ulama. Dalam rangka mempersiapkan diri menjadi kader ulama, maka santri harus tafakuffiddin atau belajar agama,” tutur Menteri Nusron.

Ia menambahkan bahwa dalam proses belajar agama perlu memerhatikan sanad keilmuan, agar santri tidak terjebak pada pemahaman yang dangkal dan menyesatkan.

“Belajar agama harus talaki dan bersanad, tidak cukup hanya dari media sosial. Sanad itu bagian dari agama. Tanpa sanad, orang bisa tersesat dan mengaku berpendapat atas nama agama,” pesannya.

Baca juga: Menteri Nusron Dorong Santri Berkiprah di Panggung Nasional

Menteri Nusron di Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur’an wal Hadits, Kota Bekasi (doc: ATR/BPN)

Selanjutnya, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid menjelaskan bahwa pilar hikmat al hukama terkait dengan kemampuan para santri di bidang-bidang teknokratik seperti geologi, teknologi, energi, dan lainnya. Untuk mengasah keahlian tersebut, perlu melanjutkan studi ke universitas atau kampus yang sesuai.

“Ada santri ahli geologi. Ada santri ahli energi. Ada santri ahli listrik dan sebagainya. Ini adalah hikmat al-hukama. Ini tempatnya dimana kalau ingin menjadi kader teknokrat? Adik-adik sekalian para mahasiswa harus kuliah di tempat-tempat yang bagus,” tutur Menteri Nusron.

Terkait pilar ketiga yakni wasiyasatal muluk, Menteri Nusron paparkan pentingnya para santri untuk bersiap menjadi negarawan yang berjiwa besar dan mampu memimpin dengan semangat persatuan tanpa dendam.

Menutup sambutan dan amanatnya di depan para santri Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur’an wal Hadits, Kota Bekasi, Menteri Nusron menegaskan bahwa ketiga pilar tersebut harus dilandasi dua hal yakni akhlakhul karimah dan fondasi ilmu agama yang cukup. Dengan bekal pemahaman tersebut, Menteri Nusron berharap para santri bisa terus menunjukkan eksistensi dan kontribusinya bagi kemajuan bangsa. “Semoga eksistensi santri di Indonesia makin nyata, dan kontribusinya makin konkret untuk membangun kemajuan, kemakmuran, dan kesejahteraan rakyat Indonesia,” pungkasnya.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina, Abah Abu Bakar Rahziz dan Kepala Kantor Pertanahan Kota Bekasi, Heri Purwanto beserta jajaran.