Peluang Investasi Rp430,9 Triliun dari JIF, Jakarta Dorong Pertumbuhan Pinggiran Kota

Jakarta — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai melirik wilayah pinggiran kota sebagai bagian terintegrasi dari pembangunan kawasan. Peluang investasi Rp430,9 Triliun dari Jakarta Investment Festival atau JIF akan tersebar di berbagai wilayah Jakarta untuk menarik minat investor.

Hal tersebut ditegaskan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi DKI Jakarta, Heru Hermawanto dalam forum puncak Jakarta Investment Festival (JIF) 2025 yang digelar Jumat, 10 (10/10/2025) di wilayah Kuningan, Jakarta Selatan.

“Jumlah proyek potensial yang ditawarkan di JIF 2025 sebanyak 32 proyek dengan total nilai investasi sebesar, Rp.430,9 triliun, ini terdiri dari beberapa proyek yang ada, umumnya proyek infrastruktur, diharapkan dapat menarik minat investor yang kemungkinan akan masuk,” papar Heru.

Menteri Rosan, Gubernur dan pejabat DKI Jakarta bahas peluang investasi di forum puncak JIF (doc: DPMPTSP DKI Jakarta)

Peluang investasi tersebut mencakup sektor properti, pariwisata, transportasi, air, dan sanitasi. Di dalam 32 proyek infrastruktur berkelanjutan, terdapat 13 proyek revitalisasi perkotaan serta sejumlah proyek utilitas terintegrasi. Proyek-proyek potensial tersebut tersebar di seluruh wilayah Jakarta, mulai dari Jakarta Pusat, Selatan, Utara, Timur, maupun Jakarta Barat.

Langkah ini, kata Heru, merupakan upaya strategis untuk membuka ruang pertumbuhan baru dan mengurangi beban kawasan inti yang selama ini menjadi magnet utama investasi. Ia juga memastikan akan terus meningkatkan efektivitas mekanisme perizinan dan kecepatan waktu realisasi investasi di Jakarta, agar tercipta kemudahan investasi dan kepastian.

“Salah satu cara menyiapkan Jakarta sebagai Kota Global, yakni dengan kemudahan berinvestasi dan kepastian, termasuk interaksi antara investor dengan pemerintah dan bagaimana pemerintah menjadi fasilitator dalam mekanisme perizinan dan kecepatan waktu realisasi investasi di Jakarta,” jelas Heru.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Unit Pengelola (UP) Jakarta Investment Centre (JIC) DPMPTSP Provinsi DKI Jakarta, Tona Hutauruk, menambahkan bahwa strategi penyebaran investasi ke wilayah pinggiran dipercaya tidak hanya membantu pemerataan pembangunan, tetapi juga menarik minat investor melalui paket investasi yang beragam.

“Kita memang tidak ingin hanya fokus di kawasan Sudirman–Thamrin saja. Di seluruh wilayah Jakarta, kami coba dorong pengembangan dengan berbagai bentuk investasi, mulai dari properti, infrastruktur, infrastruktur olahraga, hingga sektor pariwisata. Tujuannya, agar paket investasi yang ditawarkan bisa lebih beragam dan menarik bagi para investor,” jelas Tona.

Dalam pelaksanaan JIF 2025, DPMPTSP Provinsi DKI Jakarta berkolaborasi dengan lebih dari 30 mitra strategis, mulai dari institusi swasta terkemuka, organisasi internasional dan kedutaan besar, lembaga negara dan BUMN, serta BUMD dan BLUD di Jakarta.

Adapun berbagai proyek investasi potensial ditawarkan oleh PT. MRT Jakarta, PT. Moda Integrasi Transportasi Jabodetabek (MITJ), PT. Integrasi Transit Jakarta, PT. Jakarta Propertindo (Jakpro), Perumda Sarana Jaya, PT. Pembangunan Jaya Ancol, Perumda PalJaya, Jakarta Experience Board, PT. Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP), Perumda PAM Jaya, dan Jakarta Asset Management Centre (JAMC).

Baca juga: BPN dan Ombudsman Sulsel Siap Berkolaborasi Atasi Aduan Layanan Pertanahan yang Tinggi

Sejumlah pejabat berfoto bersama di forum puncak JIF (doc: DPMPTSP DKI Jakarta)

Pusat dan Daerah Sepakati Peluang Investasi Harus Inklusif dan Berkelanjutan

Strategi pemerataan investasi di berbagai kawasan Jakarta ini mendapatkan dukungan langsung dari Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Republik Indonesia, Rosan P. Roeslani, yang hadir dalam forum puncak JIF Summit 2025. Terlebih, ia menegaskan bahwa Jakarta memang memiliki peran vital bagi pertumbuhan ekonomi bukan hanya di tingkat lokal tapi juga nasional.

“Jakarta memainkan peran yang sangat signifikan bukan hanya untuk warga Jakarta tetapi juga untuk rakyat Indonesia, karena kontribusi dari Jakarta untuk pertumbuhan ekonomi kita sebenarnya sangat-sangat signifikan,” ungkapnya.

Lebih jauh, Menteri Rosan juga menyoroti capaian investasi di Jakarta yang mencapai Rp.140,8 triliun pada semester pertama tahun 2025. Dari total tersebut, investasi asing (Foreign Direct Investment/FDI) berkontribusi sekitar USD 3,2 miliar.

“Ketika ada investasi maka Anda menciptakan lapangan kerja, semoga lapangan kerja yang berkualitas. Dan sebenarnya itulah tantangan terbesar untuk Indonesia, untuk orang Jakarta, bagaimana kita bisa menciptakan lapangan kerja yang berkualitas,” jelas Menteri Rosan.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa transformasi Jakarta menuju kota global harus berjalan seiring dengan prinsip keberlanjutan dan inklusivitas, agar hasil pembangunan benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk di wilayah pinggiran kota.

“Kami memiliki visi yang jelas untuk membawa Jakarta masuk dalam jajaran 50 besar Kota Global pada tahun 2030 dan 20 besar dunia pada 2045,” ungkap Pramono di gelaran puncak JIF 2025.

Dalam visi tersebut, Pemprov DKI Jakarta menekankan pentingnya akses yang setara terhadap infrastruktur dan layanan dasar sebagai fondasi pembangunan inklusif. Gubernur Pramono menjelaskan bahwa pemerintah terus memperkuat infrastruktur dasar dan transportasi publik, termasuk perluasan jalur MRT dan LRT serta integrasi layanan Transjakarta hingga ke wilayah TransJabodetabek.

“Ekspansi transportasi di Jakarta akan terus diupayakan untuk memudahkan mobilitas masyarakat sekaligus konektivitas antarwilayah, diharapkan dapat menciptakan berbagai peluang ekonomi,” jelas Gubernur Pramono.

Selain transportasi, Pemprov DKI Jakarta juga menaruh perhatian besar terhadap keterjangkauan energi dan sumber daya air yang berkelanjutan. Pemprov berkomitmen mewujudkan 100% cakupan air bersih pada 2029 serta menurunkan tingkat kebocoran air hingga 30% pada 2030. Langkah ini tidak hanya ditujukan untuk efisiensi, tetapi juga untuk memastikan bahwa seluruh warga, termasuk di kawasan padat dan pinggiran, dapat menikmati sumber daya air secara merata dan berkelanjutan. Sementara itu, program pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste to energy) yang akan digawangi BP Danantara, juga searah dengan dengan upaya Pemprov menyediakan energi bersih bagi masyarakat.

Dengan sinergi lintas sektoral ini, arah baru investasi di Jakarta tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan hadirnya pemerataan pembangunan serta konektivitas antarkawasan. Transformasi digital dalam pelayanan investasi juga dipercaya mampu membawa Jakarta menuju kota global yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.(Ed/EL)