Jakarta – Di tengah pesatnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), fenomena orang muda menjadikan AI sebagai tempat bercerita ketika menghadapi persoalan pribadi, memunculkan pertanyaan baru: sejauh mana chatbot dapat menjadi ruang aman, kapan ia berpotensi menciptakan ilusi empati dan ketergantungan emosional, hingga bagaimana risiko terhadap data pribadi.
Temuan tersebut muncul dalam riset terbaru Yayasan Digital Resilience Indonesia (DiRI) yang dipaparkan dalam webinar “Beyond the Prompt: Pemahaman Gen Z terhadap Batasan AI dalam Konteks Curhat di AI,” Rabu (15/7). Riset menunjukkan, 59,4% Gen Z di Indonesia pernah mencurahkan persoalan pribadinya kepada AI, dengan topik yang paling banyak dibahas meliputi pendidikan, percintaan, masa depan, kesehatan, dan keluarga.
Temuan ini hadir ketika penggunaan AI generatif di Indonesia terus meningkat, sementara pembahasan mengenai tata kelola AI, perlindungan data pribadi, dan dampaknya terhadap kesehatan mental masih terus berkembang. Sementara itu, implementasi Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) masih menghadapi tantangan, termasuk belum optimalnya pengawasan terhadap pengelolaan data oleh layanan berbasis AI.
BACA JUGA: Manfaat Blockchain Menurut Nusron: Cegah Sertipikat Ganda dan Mafia Tanah
Literasi Digital dan Memahami Paradoks AI
Direktur Eksekutif DiRI, Farabi Ferdiansah mengatakan, hubungan manusia dengan AI saat ini bersifat paradoksal. Di satu sisi teknologi AI menawarkan kemudahan, tapi di sisi lain memunculkan tantangan baru yang perlu diantisipasi. Bersamaan dengan itu, banyak kalangan juga mulai menyoroti meningkatnya kebutuhan ruang aman bagi orang muda untuk mendapatkan dukungan emosional di tengah tingginya tekanan akademik, pekerjaan, maupun relasi sosial.
“Dalam riset kami, sekitar enam dari sepuluh responden mengaku pernah ‘curhat’ kepada AI. Hal ini menunjukkan bahwa chatbot telah menjadi ruang alternatif untuk mencari bantuan, berdiskusi, mapun berbagi persoalan pribadi. Penelitian juga menemukan bahwa banyak responden menghabiskan waktu lebih dari sepuluh menit dalam satu sesi percakapan, karena merasa lebih bebas berbicara kepada AI dan tidak takut dihakimi,” ujar Farabi.
Lebih lanjut, peneliti DiRI sekaligus Direktur Digital Media Research and Consulting, Haris Fatwa menjelaskan, riset menyoroti adanya paradoks krusial di balik fenomena ‘curhat’ kepada AI. “Gen Z sebenarnya terliterasi soal bias dan halusinasi AI, tetapi mereka tetap memilihnya sebagai tempat bercerita. Hal ini mengindikasikan tingginya krisis ruang aman dan ketiadaan pendengar tanpa penghakiman di dunia nyata, sehingga mereka rela menoleransi risiko demi mendapatkan responsivitas dan validasi instan,” jelas Haris.
Riset DiRI juga menemukan paradoks lain dalam aspek perlindungan data pribadi. Sebanyak 88,7% responden percaya AI mungkin menyimpan data percakapan mereka, 90,9% menilai kebijakan privasi platform AI belum cukup jelas, dan 75,1% khawatir data tersebut dapat disalahgunakan. Meski demikian, 63,2% tetap membagikan cerita pribadi mereka kepada AI.
“Banyak orang muda yang curhat ke AI sebenarnya bukan karena mereka tidak memiliki teman yang bisa dipercaya di dunia nyata, tapi memposisikan AI sebagai alternatif pendengar yang bebas penghakiman. Tapi di saat yang sama, 70,2% responden justru mengeluhkan bahwa AI sering gagal menangkap kedalaman emosi manusia,” ungkap Haris.
Dalam webinar tersebut, psikolog sosial sekaligus konselor Helpine.id, Syurawasti Muhiddin, menjelaskan bahwa kenyamanan bercerita ke AI umumnya lahir dari rasa takut dihakimi. Ia juga mengingatkan bahwa AI tidak dapat menggantikan peran profesional kesehatan mental.
“Fenomena ini memunculkan berbagai kekhawatiran terkait privasi, apakah AI akan menggantikan peran manusia atau AI justru dapat memperparah krisis? Pendekatan yang paling ideal adalah membangun kerja sama antara konselor manusia dengan AI. AI dapat menjadi alat bantu, tapi jika seseorang membutuhkan diagnosis medis atau psikologis yang akurat, AI tidak memiliki kapasitas untuk menyediakannya,” jelas Syura.
Pandangan serupa disampaikan peneliti dari Center for Studies on Inclusive Education (CSIE) Sekolah Tumbuh, Ria Putri Palupijati, yang mengingatkan bahwa kehadiran AI berpotensi membuat seseorang kehilangan jati dirinya jika tidak disadari batasnya.
“Kehadiran berbagai media eksternal seperti AI, tanpa disadari sering kali membuat kita terdistraksi dan kehilangan jati diri. Kita harus senantiasa menyadari bahwa AI hanyalah entitas atau alat yang berada di luar diri kita. Media seharusnya hanya diposisikan sebatas sistem pendukung, bukan pengganti otentisitas kita sebagai individu yang utuh,” tambah Ria.
Empat Kompetensi Menghadapi AI
Mengacu pada kerangka literasi digital UNESCO dan DigComp 2.2 Komisi Eropa, DiRI menilai sedikitnya terdapat empat kompetensi yang perlu diperkuat pada generasi muda, yakni kemampuan berpikir kritis terhadap keluaran AI, literasi informasi dan data, kesadaran terhadap privasi dan keamanan digital, serta penggunaan AI secara etis.
Meski demikian, riset DiRI juga menunjukkan sinyal positif. Hampir 90% responden telah memiliki tingkat kesadaran sedang hingga tinggi terhadap keterbatasan AI. Namun, DiRI menilai pengetahuan tersebut perlu diterjemahkan menjadi perilaku digital yang bertanggung jawab, termasuk memahami kapan AI hanya berfungsi sebagai alat bantu, dan kapan seseorang perlu mencari dukungan dari keluarga, teman, konselor, maupun tenaga kesehatan mental.
Lutfiah Septiyani, orang muda salah satu peserta webinar berpendapat, ia menyadari batas tipis antara kebutuhan bercerita dan ketergantungan pada validasi mesin. “Ketika curhat dengan AI ternyata saya sadar bahwa saya hanya sekadar mencari validasi dan afirmasi psikologis dari AI, padahal AI hanya memainkan pola bahasa,”ujar Lutfiah.
Salah satu pembicara webinar, Nix Hadid Alonzo Permadi, founder Sobat Literasi Indonesia, menambahkan bahwa literasi digital menuntut kemampuan mempertanyakan kebenaran informasi, sumber jawaban, potensi bias, serta keamanan data secara kritis.
“Yang perlu terus kita tanyakan setiap kali pakai AI itu sederhana. Informasi ini benar atau tidak, dari mana sumbernya, apakah ada bias, apakah data saya aman, dan informasi apa yang sebaiknya tidak saya bagikan ke AI,” ujarnya.
Webinar “Beyond the Prompt: Pemahaman Gen Z terhadap Batasan AI dalam Konteks Curhat di AI,” diselenggarakan DiRI bekerja sama dengan Halo Jiwa Indonesia, Sekolah Tumbuh, dan Yayasan Sobat Literasi Indonesia. Kegiatan yang diikuti lebih dari 100 peserta ini menghadirkan peneliti inklusi Ria Putri Palupijati, psikolog sosial Syurawasti Muhiddin, serta tokoh orang muda Nix Hadid Alonzo Permadi sebagai narasumber.**

