Tuding RI Berhaluan Kapitalis, Mahasiswa USU Malah Kena Skakmat Data Mentan Amran

Gaya Mentan Amran saat menghadapi debat dengan mahasiswa USU. Foto Humas Kementan

Medan — Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman (Mentan Amran) menanggapi langsung kritik tajam dari seorang mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) yang menilai arah kebijakan Indonesia saat ini semakin condong pada praktik kapitalisme yang menyengsarakan rakyat. Menghadapi tudingan tersebut, Mentan Amran menegaskan bahwa sikap kritis memang wajib dimiliki oleh generasi muda, namun kritik yang dilontarkan harus bersifat konstruktif dan berpijak pada data yang valid.

Aksi saling adu argumen ini terjadi dalam kuliah umum bertema “Inovasi dan Kolaborasi Generasi Muda Menuju Swasembada Pangan”. Mahasiswa yang sebelumnya melakukan interupsi langsung diajak berdialog oleh Mentan Amran dan mempertanyakan arah ideologi ekonomi negara saat ini.

“Pandangan saya hari ini, negara Indonesia semakin menuju negara kapitalis yang semakin menyengsarakan rakyat. Apakah Bapak bisa menghentikan negara ini dari negara kapitalis?” tanya mahasiswa tersebut dalam forum yang berlangsung pada Rabu, 15 Juli 2026.

Mendengar pertanyaan provokatif tersebut, Mentan Amran tidak tinggal diam dan langsung menantang balik mahasiswa tersebut untuk membuktikan argumennya.

“Saya tanya sportif ya, dari mana data Anda menyatakan negara menuju kapitalis? Kalau kita berdiskusi, mari berangkat dari data,” ujar Mentan Amran.

Namun, mahasiswa tersebut justru mengakui bahwa argumen yang ia bangun tidak bersandar pada basis data ilmiah, melainkan penilaian subjektif terhadap aksi sosial Mentan Amran yang sempat membagikan bantuan kepada mahasiswa korban bencana Sumatra di awal acara.

“Saya tidak perlu berbicara data. Dengan Bapak memberi uang tadi, menurut saya itu mencontohkan perilaku kapitalis karena membuat masyarakat bergantung pada uang,” kilahnya.

BACA JUGA: Mentan Amran Ingin Bertemu Nusron Wahid, Ada Apa?

Mentan Amran Sanggah Tudingan dengan Bukti Nyata

Mendengar sanggahan tersebut, Mentan Amran langsung meluruskan kesalahpahaman tersebut. Ia menjelaskan bahwa bantuan kemanusiaan yang ia berikan sama sekali tidak menyentuh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), melainkan murni dari kantong pribadinya melalui yayasan sosial yang ia kelola.

“Kalau ada orang mendapat rezeki lalu membantu anak yatim atau korban bencana melalui yayasan, apa salahnya membantu? Itu bukan uang negara, tetapi bantuan pribadi,” jelasnya.

Setelah mahasiswa tersebut sepakat bahwa aksi tolong-menolong bukanlah kesalahan, Mentan Amran langsung membeberkan serangkaian kebijakan strategis pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang justru berpihak pada rakyat kecil dan mematahkan narasi kapitalisme tersebut.

Langkah nyata tersebut di antaranya adalah penurunan harga pupuk bersubsidi hingga 20 persen, penyederhanaan birokrasi penyaluran pupuk, hingga pembagian alat dan mesin pertanian secara cuma-cuma demi memangkas biaya produksi petani di lapangan.

Merujuk pada data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), kebijakan tersebut terbukti mendongkrak kesejahteraan petani di mana Nilai Tukar Petani (NTP) melesat ke angka 127,73—angka tertinggi dalam 34 tahun terakhir—yang diikuti dengan penurunan angka ketimpangan sosial.

“Pupuk dibuat lebih murah, bantuan traktor diberikan gratis agar tidak terjadi ketimpangan. Kesejahteraan petani meningkat, itu ada datanya dari BPS. Jadi mari melihat persoalan secara utuh,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa pemerintah terus memperketat pengawasan anggaran demi memastikan setiap rupiah dialokasikan untuk sektor produktif yang langsung menyentuh masyarakat bawah.

“Daripada anggaran dikorupsi, efisiensi diarahkan untuk rakyat. Hasilnya produksi meningkat, impor pangan turun, dan swasembada semakin kuat. Itu semua bisa diukur dengan data,” ujarnya.

Mengakhiri debat hangat tersebut, Mentan Amran menekankan bahwa iklim akademis di kampus memang harus hidup dengan perbedaan pendapat, namun perdebatan harus naik kelas dengan menyajikan fakta otentik, bukan sekadar asumsi liar.

“Memang anak-anak muda harus berdiskusi seperti ini. Kami senang berdialog, jangan ada yang ditutupi supaya tidak muncul salah persepsi. Kritik itu penting, tetapi mari adu data, bukan opini,” pungkas Mentan Amran disambut riuh para peserta kuliah umum.