Studi Menyebutkan 99% Anak Muda Indonesia Menginginkan Pengalaman Kerja Nyata

Four young adults walking outdoors, showcasing casual street fashion.

JAKARTA — Anak muda Indonesia dikenal memiliki semangat kewirausahaan dan rasa percaya diri yang tinggi. Namun, di balik sikap optimistis tersebut, terdapat kebutuhan besar akan pengalaman praktis langsung di lapangan untuk menjembatani teori akademik dengan dinamika dunia kerja nyata.

Temuan ini terungkap dalam studi terbaru bertajuk Shaping Tomorrow’s Workforce – Asia Pacific Youth Insights yang dirilis oleh Federal Express Corporation (FedEx) bersama Junior Achievement (JA) Asia Pacific. Survei yang dilakukan oleh Bolt Insight pada Juni–Juli 2026 ini melibatkan 4.219 responden berusia 15–22 tahun di sepuluh wilayah Asia Pasifik, termasuk 552 generasi muda dari Indonesia.

Hasil riset mencatat bahwa 99% anak muda Indonesia berharap lembaga pendidikan formal dapat memberikan lebih banyak pemahaman praktis tentang operasional dunia kerja. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata kawasan Asia Pasifik yang berada di level 97%.

BACA JUGA: Eliminasi HIV dan Ketahanan Keluarga di Depok: YMPAI Gagas Akademi Tokoh Pembangunan Kesehatan

Tingkat Kepercayaan Diri Anak Muda Tinggi, tetapi Butuh Paparan Bisnis Nyata

Anak muda Indonesia menunjukkan skor indikator kemandirian dan inisiatif yang melampaui rata-rata pemuda di Asia Pasifik. Keunggulan tersebut mencakup beberapa aspek utama:

  • Inovasi dan Ide Baru: 78% responden Indonesia merasa percaya diri menghasilkan solusi baru (vs 61% Asia Pasifik).
  • Proaktif: 72% siap mengambil inisiatif mandiri tanpa menunggu arahan (vs 60% Asia Pasifik).
  • Adaptabilitas: 73% percaya diri mampu menyesuaikan diri saat terjadi perubahan rencana (vs 62% Asia Pasifik).
  • Pengambilan Keputusan: 69% mantap mengambil keputusan secara mandiri (vs 59% Asia Pasifik).

Meski memiliki fondasi inisiatif yang kuat, tingkat kenyamanan mereka dalam menghadapi situasi kerja yang kurang terstruktur masih terbilang rendah. Hanya 43% responden Indonesia yang merasa nyaman bekerja tanpa rutinitas tetap, lebih rendah dibandingkan rata-rata regional sebesar 56%.

“Anak muda Indonesia memiliki energi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Mereka tidak hanya ingin mempelajari teori, tetapi juga ingin mendapatkan kesempatan untuk menerapkan kemampuan mereka dalam lingkungan bisnis yang nyata,” ungkap Garrick Thompson, Managing Director FedEx Indonesia.

Urgensi Keterampilan AI dan Perdagangan Global

Laporan hasil kolaborasi FedEx dan JA Institute ini juga menggarisbawahi pentingnya menyelaraskan kurikulum pendidikan dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) serta integrasi pasar internasional:

  • Kebutuhan Literasi AI: Sebanyak 84% pemuda Indonesia menyadari akan bekerja berdampingan dengan AI di masa depan. Namun, baru 70% yang merasa institusi pendidikan mereka telah memberikan bekal penggunaan AI untuk lingkungan kerja nyata.
  • Perdagangan Lintas Negara: Sebanyak 94% responden menilai pemahaman bisnis internasional sangat relevan bagi karier mereka, tetapi hanya 69% yang pernah mendapatkan materi perdagangan internasional di sekolah atau kampus.
  • Pola Pikir Kewirausahaan: 95% pemuda Indonesia sepakat bahwa entrepreneurial mindset merupakan kunci sukses di semua jenis pekerjaan, jauh di atas rata-rata kawasan (85%).

“Saat ini, tingkat pengangguran anak muda di Asia Pasifik mencapai hampir 14%, jauh lebih tinggi dibandingkan pengangguran orang dewasa, sementara kesenjangan adopsi AI terus melebar. Kita tidak bisa berasumsi bahwa bakat saja cukup. Mereka membutuhkan kesempatan membangun keterampilan praktis,” jelas Vivek Kumar, President dan CEO JA Asia Pacific.

Riset ini bertepatan dengan perayaan 20 tahun FedEx/JA International Trade Challenge (ITC), program edukasi yang telah menjangkau lebih dari 54.000 pelajar di Asia Pasifik sejak 2007 dalam mengasah kemampuan pemecahan masalah, kolaborasi lintas budaya, dan strategi bisnis global.